JOGJA, JAKARTA, SENANDUNG RINDU DI ANTARANYA [Eps. 1]


Jakarta, hari ini.
Kamu. Jogja. Aku. Dan kita. Lalu, kenangan ini. Kamu ingat? Tidak, aku yang ingat. Nostalgia ini, apakah penting? Tidak, aku yang menyangkanya seperti itu.
Baiklah, sebelum semesta mengikuti kisah kita, aku akan mengenalkan diriku. Juga dirimu. Aku adalah kamu semua yang akan menjejaki kisah kita. Kamu tinggi, atau pendek, kamu mancung, atau pesek, itu terserah kamu. Kamu sendiri yang tahu. Itu ilusi yang kamu cipta, apa yang kamu rasa. Sedangkan kamu? Kamu adalah memoriku, semua orang memiliki kamu sebagai kenangan. Kamu tinggi, atau pendek, kamu cantik, atau jelek, itu tergantung kamunya kamu.
Jadi, marilah kita mulai saja. Ini tentang kita. Aku, kamu, Jakarta, ataupun tempat perantauan di mana kamu sekarang berada.
Dan Jogja.

Mungkin Jogjanya masih sama,
akunya tidak.
Mungkin kamunya pun masih sama,
akunya tidak.
Atau kita sama-sama telah berubah?

Ingin kuputar waktu, kembali ke dimensi saat bersama, dan aku ingin meminta kepada Sang Khalik agar Dia menghentikan waktu-Nya. Agar burung-burung tetap terbang rendah, bunga-bunga tetap bermekar raksi seperti di Surga. Dan hijau rerumputan sebagai alas tidur, menatap mega, sambil menerawang imaji-imaji yang belum pasti. Mimpi-mimpi yang ingin kujamah bersamamu. Dulu.
Engkau yang tak pernah berlari dari ingatan, bahkan saat kita mulai perlahan tak satu jalan. Kamu di jalur yang bersimpangan, atau justru pergi jauh dari lintasan. Aku kini masih ada, menyimpan semua foto-foto kita bersama dalam satu album ingatan, kemudian satu persatu kubuka hari demi hari.
Di tanah asing ini.
Rindu. Pilu. Berjarak padamu bukan suatu ketenangan. Perpisahan darimu dimulai dari hal-hal yang tak kuinginkan, kemudian kita pergi sendiri-sendiri. Meraih mimpi sendiri-sendiri. Padahal kita pernah berjanji akan ada satu bintang yang akan kita tuju. Berjanji? Atau jangan-jangan hanya aku yang berucap, kamu tak mengamini.  
Jalan rindu yang kutempuh ini bernama kenangan-kenangan. Setelah berhari-hari kulalui di tanah asing ini dengan kesendirian, malam ini aku berdiri di ambang batas jendela sambil menantang langit. Kubertanya padanya, apakah yang kamu lakukan di sana?
Kuselip satu pertanyaan tabu tentang rasaku yang mengendap menjadi kerak tentangmu, masih adakah rindumu padaku seperti kegilaan pada setiap kenanganku. Dulu.
Kuberpikir bahwa duniamu, duniaku, tak lagi menyatu, namun masih dalam koridor yang sama. Saling bertabrakan, tetapi tak bisa bergandengan.
Di Jogjalah kita mengawali lakon ini. Kota yang penuh dengan narasi-narasi keromantisan, hingga mengenangnya tak butuh lagu-lagu sendu tentang rindu. Bagiku, Jogja sudah cukup membuatku rindu. Tentangmu.
Jogja, masih adakah satu ruang untukku pulang? Setelah apa yang kulukakukan.  Ingin melupakan kenangan tentang kisah yang kuharapkan dulu telah usai, tapi ternyata belum berdamai.  
Karena setiap orang memiliki dongeng-dongeng masa lalu yang belum usai.
Sungguh, aku merindukan Jogja dan kamu. Jogja terlalu spesial. Tak tergantikan. Begitu juga dengan dirimu.

Karena aku lupa,
bagaimana rasanya bangun pagi di kotaku.
Apakah seru, atau semu?

Jadi, dengarkanlah cerita tentang kenanganku, bersamamu, di kotaku. Mungkin tentang seorang kawan yang datang, lalu pergi meraih mimpi, mungkin akan datang lagi setahun, dua, atau bahkan tak lagi kembali. Mungkin tentang tetangga yang meraih mimpi di negeri orang, kemudian pulang hanya tinggal nama di batu nisan. Bisa saja tentang cinta yang dulu kuperjuangkan malam dan pagi, namun harus berujung kesepakatan bahwa cinta tak harus memiliki.
Mari kita mulai kerinduan ini, bersama laguku yang kudendangkan untukmu. Juga untuk Jogja-ku.
Dengan kerinduan, aku mulai bisa memahami mengapa kisah-kisah kita pernah diciptakan. Di Jogja. Kemudian hidup kembali saatku ada di tanah ini, Jakarta. Atau tempat-tempat kalian berada. Dan kini, ada senandung  kerinduan di antaranya.

Merindukanmu seperti halnya merindukan Jogja,
dari beratus kilometer kuberpijak tanah sekarang.
Jogja, dan kamu sama saja.
Dua-duanya tak ingin kulupakan, meski demi waktu harus tergores oleh ingatan.
Jogja, dan kamu sama saja, selalu memberiku kerinduan.  
# # #

Selamat datang kenangan. Mari kita memulai, nostalgia ini.

[ bersambung ke episode 2]


- Har -

3 comments:

  1. wah punya kenangan di kota jogja ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tentu saja dong Mbak Tira :) btw selamat datang di dunia baruku...

      Delete
  2. Jogja emang bikin rindu. Tapi kalo kolaborasinya dengan Jakarta mungkin tergantung cerita dan pengalaman ya. Kalo saya sih Bandung dan Jogja :)

    Boleh follow back nya mas di http://www.onixoctarina.com/
    Nuhun:)

    ReplyDelete