JOGJA, JAKARTA, SENANDUNG RINDU DI ANTARANYA [Eps. 2]

Selamat pagi, Jogja.
Bagaimana aku bisa lupa, bahwa kota inilah yang mengajarkanku untuk mencintamu dengan sederhana? Karena kota ini terlalu hangat untuk kurasakan di dinginnya malam di perantauan. Kota inilah yang mengajarkanku bahwa mencintaimu adalah misteri terbesar dalam hidupku.
Aku tahu. Kamu tidak.
Aku rindu. Entah denganmu.
Yang jelas, pagiku akan terasa lebih nikmat mengendari motor untuk berangkat ke kuliah. Yang jelas, soreku akan terasa lebih indah meskipun seharian aku menanggung lelah. Karena aku tahu, malamku akan berhias rindu untukmu, dan esok paginya aku akan berjumpa denganmu.
# # #

Selamat pagi, Kamu.
Kalimat yang dulu aku ucapkan, di pagiku di Jogja sambil berdendang riang menuju meja perkuliahan.
Suatu pagi aku berangkat diiringi cit-cit burung yang berdendang bersamaku, matahari yang merangkak naik menemani, kuhitung satu-satu lampu merah yang lebih lama menyala dari biasanya, namun tak mengurungkan semua kegembiraanku untuk menemuimu.
Pagi itu segala hal terasa lebih menyenangkan, semua penghuni alam merayakan kegembiraanku, memompa semangat. Jarak setengah jam tak membuatku merasa panjang. Karena di setiap udara yang kuhirup di antara jalan-jalan beraspal itu, aku melihat kamu.
Suatu pagi, aku berangkat ditemani rintik gerimis. Perlahan. Ingin kubertasbih pagi itu, menghitung air yang turun, meluruhkan rinduku. Gerimis menghilang berganti hujan, besar-besar. Sakit rasanya saat hujan menghujam tangan, seperti jarum tajam di mesin jahit yang mengetuk keras. Hujan pun deras. Berjas hujan pun akan sama saja.
Apakah kamu mengalami hal yang sama? Namun, aku tetap menembus hujan, seperti seorang ksatria yang siap untuk perang. Sepatuku penuh air, tak kuhiraukan.
Hanya air hujan, bukan rindu. Air bisa berubah wujud, tapi tidak dengan rinduku.
# # #

Selamat pagi, Jogja.
Pagi di Jogja tetap saja terasa lebih menyenangkan. Meski hujan. Meski dingin. Meski harus kuliah, meski tak ingin.
Apakah di kota-kota lain, orang-orang merasakan hal yang sama? Bagaimana denganmu sekarang, di kota yang kamu tinggali? Entah sendiri, entah bersama yang ada di hati? Suasana pagi yang tak kutemukan sekarang, adalah perasaan damai, tentram, nyaman.

Jogja mengajarkanku untuk mengagumimu dengan sederhana
Lantunan lagu-lagu di perempatan tugu
oleh seorang anak kecil yang membawa gitar sambil tersenyum lalu.
Di pundaknya memanggul mimpi-mimpi membangun negeri.
Bahwa mimpi-mimpi tentang dunia, tentang cinta, bermula dari pagiku di Jogja

Pagi di Jogja adalah Merapi yang menjulang tinggi, tampak simetris, di kiri kanan Jalan Kaliurang. Berlatar putih dan biru yang menetramkan. Dialah yang agung di sisi utara, seperti ksatria yang bertenger di atas kuda, mengobarkan semangat pada prajuritnya.
Padi di Jogja adalah udara segar yang kuhirup di tengah perempatan Kaliurang. Orang-orang berlalu lalang, tapi udaranya tampak menyenangkan. Di sana kuhitung satu persatu lampu merah yang menyala. Dua lima. Dua empat. Dua tiga. Rasanya tak sabar hingga mengucap satu.
Pagi di Jogja adalah kesempatan untuk melihat Abang Burjo depan kosan teman, dengan muka berminyak, namun tetap segar melayani pelanggan. Mending sarapan nasi telor, nasi sarden, atau Intel? Si abang bertanya ramah, lalu bercerita bahwa dia belum tidur sementara temannya yang akan menggantikannya masih terlelap impian.
Pagi di Jogja adalah kamu. Meski tak kumiliki, tetapi adalah penyemangat hari-hari.
Kuingat puisi yang kuciptakan pagi itu. Lirik yang tak pernah kupikirkan dalam-dalam, karena semua tentang Jogja adalah puisi. Semua Jogja adalah narasi-narasi penuh kata-kata hiperbola, metafora, hingga personifikasi.
Juga tentang kamu. Kamu adalah semua dongeng yang kuciptakan di pagi hari melewati jalan-jalan di Jogja. Tak perlu kubacakan puisi, karena kamulah puisinya.

Aku tak bisa membayangkan,
bertahun-tahun kemudian, akan pergi dan merindukan.
Kenangan.

Aku tak bisa membayangkan,
bertahun kemudian, akan kembali datang.
Masihkan ada kesempatanku untuk pulang.

Pada tahun terakhirku di kota Jogja, setelah kemudian aku pergi meninggalkannya, semua hal menyenangkan pun tetap sama. Padahal saat itu, rasa-rasanya kamu tak lagi ada di hari-hariku. Kamu lenyap di telan lubang hitam di angkasa, melebur bersama udara. Seperti kurasa, tapi tak ada. Seperti ada, namun telah tiada. Hariku kemudian mengingat memori tentang dongeng-dongeng tentang kita.
Ini kisah sembilu yang kuciptakan sendiri. Kamu mungkin tak mengerti, namamu terlalu lama ada. Mengoyak ramai, melebur hampa. Aku terjebak oleh kisah yang kudeskripsikan tanpa ijin darimu.
Aku merangkul kenangan, mencabut ego, menepis bibir-bibir yang bernyanyi lirih di dekat telinga, memekak sepi, kemudian kutelan pahit-pahit. Membiarkan jalanan panjang di depanku, kutempuh tanpa mempedulikan orang-orang berteriak ‘hei, apa yang kamu lakukan dengan kebodohan itu?’. Cukup aku yang tahu tentang dongeng ini. Tidak mereka, mungkin tidak denganmu.
Kamu hanyalah ilusi yang kuciptakan setiap pagi di Jogja, kemudian sekian lama aku mulai berpikir, lebih baik aku tak terlalu memikirkan. Lebih baik aku mulai biasa untuk tanpamu. Jogja tetap saja menyenangkan, meski kamunya tak ada.  

Aku tak bisa membayangkan,
bertahun kemudian, mencuri waktu.
Untuk kembali padamu.
Mengucapkan selamat pagi, padanya.

Jogja.


[ bersambung ke episode 3]


- Har ! -

No comments:

Post a Comment