JOGJA, JAKARTA, SENANDUNG RINDU DI ANTARANYA [Eps. 3]


Jakarta, malam ini.
Satu persatu kulewati tahun-tahun di sini dengan mengenang, karena sungguh bertahun hidup di kotaku seperti menggores luka sendiri di hati. Sulit kuhapus, tak gampang kuingat. Namun, setiap sudut yang Jogja ciptakan, dibumbui oleh deskripsi tentangmu, menjadikan malam-malamu semakin sendu. Rindu. Jauh dari semua. Bayangan masa lalu berloncatan karena lagu, malam, siang, makanan, dan hal-hal yang beririsan.
Jogja.
Apakah ada yang lebih menghangatkan, dari sekumpulan orang-orang yang bercerita di pinggir jalan sambil menegak segelas kopi dan satu cerita tentang cinta?
 Apakah ada yang lebih menyemangatkan, dari melihat sepeda-sepeda tua dikayuh oleh kaki-kaki cokelat yang kuat, dari selatan ke utara, dan sebaliknya?
Apakah ada yang lebih menetramkan, melihat seorang ibu-ibu tua tersenyum—di punggungnya berat dirasa setumpuk barang dagangan yang dibawa ke pasar, padahal hari itu kelabu?
Apakah ada yang lebih mengasyikkan bermain air di sungai jernih dengan hamparan hijau petak-petak sawah yang menyejukkan mata?
Apakah ada yang lebih mengasyikkan berdendang ria sepanjang jalan di Jogja, bersamamu tentu saja? Jogja menyimpan kenyamanan, kerinduan, dan setumpuk kenangan.
Jalan-jalan di sekitar UGM mungkin tak lagi dipenuhi adegan-adegan tentangku yang mengembara mencari tempat fotokopian di saat ujian, atau repotnya mencari makan buka puasa saat Ramadhan bersamamu. Tetapi kenangannya masih sama. Tempat persewaan DVD di Jalan Kaliurang dan Gejayan mungkin tak lagi didatangi olehku yang mencari kesibukan di tengah kemelutnya tugas dosen. Tetapi kenangannya masih sama. Pantai-pantai di selatan mungkin tak lagi dipenuhi teriakan-teriakanku melepas penat setelah ujian tiba. Tetapi kenangannya masih sama.
Mungkin aku akan sedikit lupa rasanya. Mungkin tak ada yang bisa merasakan kesederhanaan kita berhuh-hah ria di Mang Kobis sambil mengelap keringat tanpa penat. Atau jalan-jalan saja berdua sambil cekikikan di rentetan kios-kios buku depan SMA 6, atau di Shopping Beringharjo sana. Mungkin tak ada yang merasakan kegilaan kita, mencari tempat-tempat makan murah di Pogung, dari nasi uduk sederhana, oseng-oseng mercon, Inyong, hingga Lumpia Boom kesenangan kita.
Sekarang aku tinggal di kota yang penuh dengan kepalsuan, antara batas cinta dan uang yang menjadikanku gila karena setiap malam hanya ada bayanganmu yang menyejukkan. Namun, itulah yang kulakukan, karena hidupku bertopang pada uang dan dunia kesenangan. Karena mimpi-mimpi yang kubangun di sini, ambruk perlahan-lahan karena terjebak zona nyaman yang memabukkan.
Pertanyaannya, apakah yang akan aku lakukan padamu, Jogja? Meninggalkan, lalu perlahan melupakan. Dan hanya pulang sesekali untuk melepas rindu.
Dan engkau menjawab, bukankah itu rindu yang sebenarnya. Ketika kamu sudah benar-benar kehilangan, lalu bertemu di satu waktu dan mengenang waktu yang telah berlalu.

Maka pulang adalah jawaban dari setiap kerinduan
karena berjauhan.

Setidaknya aku masih ada rasa memiliki. Memiliki rindu karena jauh di sini. Karena setiap rinduku padamu malam-malam itu adalah jawaban atas apa yang kutanyakan. Bahwa kamu terlalu spesial, tak akan tergantikan. Seperti kota kelahiranku.
# # #

Jogja, sore itu adalah perpisahan paling memilukan antara kita.
Warna jingga mulai sedikit menghias langit, saat kudengar deru suara pesawat di bandara. Satu persatu pelukan kulepaskan, tetapi tidak dengan kotaku. Jogja begitu erat merambat dari kaki sampai ubun-ubun, mencengkeram hati yang tak ingin pergi.
Apakah perlu kutangisi perpisahan ini, Jogja? Seperti perpisahanku dulu, padamu. Sore itu kamu tak ada, tentu saja. Kemana perginya kamu, aku tak tahu. Kamu mungkin sibuk dengan duniamu, pikiranmu, dan kisah yang akan kamu bangun sendiri. Melupakan album-album yang sengaja kukosongkan untuk kamu isi.
Perpisahan yang kuciptakan padamu, pada Jogja, menjadikan tangisku mengkristal di udara.
Setelah sekian tahun aku di Jogja, tak pernah kubayangkan akan menghirup udara tak lagi bersama. Kuingat aliran sungai yang membelah kampungku, Sungai Opak yang bermuara di Pantai Selatan sana. Menentramkan hati yang dipenuhi impian-impian masa kecil tentang dewasa. Dan kini, aku lupa.
Kuingat panjangnya Jalan Parangtritis yang menemani setiap putaran roda jeruji yang berderit-derit saat pagi dan sore hari. Jalan yang tak berdebu karena menelusurimu adalah seru. Dan kini, aku lupa.
Kutelusuri padat merayapnya Malioboro hingga Nol Kilometer menggunakan becak bersamamu yang kucinta. Banyak tawa yang kulihat di antara tukang becak, tukang andong, penjual batik di emperan toko, dan gelak tawa penjual es dawet di depan Beringharjo. Kebahagiaan tak memikirkan debu-debu yang menempel di wajah. Karena di situlah aku menemukan bahwa kesederhanaan Jogja tak lekang oleh waktu. Dan kini pun, mungkin aku lupa. 
Kutelusuri semua kenangan kita. Dan aku lupa. Aku, Jogja, kamu, dan setiap kenangan yang kuhasilkan darimu dan Jogjaku, menjadikanku setengah gila karena aku hanya bisa mengingat, satu-satu. Dan kini pun aku lupa.
Aku sudah terlalu lupa bagaimana caraku bangun di pagi hari, dan menghirup udara bersamamu di kotaku. Aku mungkin sudah terlalu lupa bagaimana sang mentari muncul di sisian timur, lalu menghilang meninggalkan semburat jingga di ufuk barat pantai selatan, menikmatinya bersamamu.
Aku lupa  bagaimana sepinya jalan, jika ramai, itu hanya senyum-senyum dari orang-orang yang duduk di pinggiran.  Aku lupa nikmatnya makan dan minum kopi sambil berdendang hingga malam, di samping stasiun. Aku kini hampir lupa caraku menikmati hidup bersamamu.
Tetapi dengan kelupa-lupaanku itu semua, kenangan tentangmu adalah indah.
Dan malam adalah cara terbaik untukku mengingat semua keping tentangmu. Dan Jogjaku. Malam di sini terlalu menyedihkan karena semua dongeng-dongeng itu berloncatan.
Kamu yang lucu, kamu yang seru, kamu yang selalu bersemangat, kamu yang selalu bilang bahwa kamu pun mencintai Jogja melebihi kotamu sendiri.
Namun kalimat yang kutunggu tak kunjung datang. Kutunggu kamu berbisik lirih di telingaku: Aku suka Jogja, dan orangnya.
Namun yang kamu katakan adalah: Aku sangat mencintai Jogja, dan orang-orangnya.
Dan ‘orang-orangnya’ yang berarti jamak, bukan aku sendiri.
Jadilah aku pergi. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menepikan perasaan.  Kuucapkan selamat jalan padamu, pada Jogja, pada orang-orang yang kucinta.
Di sinilah aku kini, menatap langit mimpi-mimpi yang kusebut satu-satu setiap hari, lalu tak kuasa aku harus sedikit melupakanmu. Bagaimana bisa, aku mulai nyaman di sini, padahal udara yang kuhirup tak lagi segar seperti dulu, dan mataku selalu perih oleh debu-debu? Berdosakan aku, hanya sesekali pulang, karena tuntutan pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan.

Namun, begitulah hidup yang sewajarnya.
Bahwa harus ada yang ditinggalkan, untuk memulai sesuatu yang baru.
Begitulah mimpi mengajarkanku
tentang cara-cara untuk bersiap oleh semua keadaan.


[ bersambung ke episode 4 ]


- Har -

No comments:

Post a Comment