SEPAHIT EMPEDU, TAPI RINDU ITU SERU



Jakarta. Hari ini. Masih tentang rindu. Kamu.
Ketika orang-orang mulai perang di kehidupan maya, tak saling menampakkan diri, penuh keniskalaan, tapi yang ada hanya rasa bangga, karena cacimu akan menghancurkan dunia. Dunia jungkir balik, siapa yang salah siapa yang benar tak pernah tahu. Ditutupi oleh kebenaran-kebenaran yang dibenarkan, atau kesalahan-kesalahan yang dibenarkan.
Aku rindu. Tidak hanya kepada kenanganmu. Tapi juga Jogjaku, rumahku, kehidupanku yang dulu. Ketika aku tak perlu memikirkan jalanan mana yang harus kulewati agar tidak terjebak oleh kemacetan. Ketika tak perlu memikirkan apakah hari ini perlu pergi ke Starbucks atau Coffe Shop terbaru di Jakarta Selatan. Ketika tak perlu lagi memikirkan, apakah harus berjuang di zona nyaman, atau pergi dan tak tahu apa yang pasti.
Aku pun kemudian merindukanmu, setelah entah berapa hari kita tak saling menyapa, tak ucapan selamat ulang tahun, selamat idul fiti, secara personal yang kuberikan atau kamu berikan padamu. Karena melihatmu berseliweran di group WA atau timeline sosial media, justru membuatku terpaku.
Apa kabarmu? Pengecutnya aku yang justru sembunyi, pergi, tak ingin engkau lihat, karena kehidupan setelahmu adalah menyedihkan. Karena engkau terlalu membengkas kenangan yang memaksaku untuk pergi berjuang seorang diri.
Lagu yang kamu nyanyikan untukku menjadi teman hari-hariku. Aku masih bisa membayangkan rasanya, ada di sampingmu, memegang gitar, sementara kamu selalu manja-manja memukulku saat aku tidak benar memetik senar. Waktu itu, aku sengaja melakukannya, agar malam panjangku masih bisa bersamamu. Agar sisa hariku, dihiasi oleh rengekan darimu. Agar engkau lelah bernyanyi, lelah bermanja, dan pada akhirnya kita menambah waktu untuk makan tengah malam bersama. Di warung burjo kesenangan kita.
Aku memesan mie goreng cabai lima, sementara kamu mie rebus cabai dua.
Hashtag #timgoreng #timrebus pernah menghiasi twitter kala itu, saat kita menghabiskan waktu sahur menunggu subuh tiba. Hashtag ‘sampah’ yang justru menjadi kenangan indah. Kenangan saat twitter mendobrak facebook, menjadikan orang-orang selebtwit dadakan. Tapi becandanya seru. Rinduku pun begitu. Tak seperti sekarang, lahan twitter berubah menjadi kebencian. Apalagi saat orang-orang menjadi junjungan. Siapa menghina siapa, siapa menjadi musuh siapa. Tak ada lagi bencada receh dengan hashtag receh pula.
Aku rindu malam itu. Merindukan perbincangan receh dengan Abang Burjo yang bercerita tentang anak istrinya yang tinggal jauh darinya. Kami mengobrol tanpa terdistraksi oleh ponsel yang menyala-nyala karena Notifikasi Path dari seorang kawan yang memasang status yang melibatkan kita. Aku rindu kenyataan bahwa berjam-jam pun kami mengobrol di situ, si Abang tidak pernah meminta uang parkiran.
Yang jelas, aku rindu karena ada kamu.

Aku rindu.
Kamu. Kenangan yang dulu.
Rindumu memang seperti empedu, pahit tak terobati. Tapi itu seru.

Apakah aku pantas jika bilang bahwa sekian tahun aku kehilangan, padahal sebelumnya hanya aku yang memiliki? Mungkin saja sekarang, aku hanyalah serpihan kenanganmu yang ditimbun oleh ribuan hari-harimu kemudian. Kamu telah melewati lebih dari sewindu, kisah tanpa diriku, dan tentunya banyak hal yang telah merubah.
Presiden kita telah berubah. Gubernur Jakarta telah berganti. Tapi kenanganmu tidak. Kenanganmu masih kubawa menikmati jalanan Jakarta yang penuh dengan makian dan hinaan. Ketika lampu merah bahkan tak jadi sebuah peringatan kematian. Kenanganmu sempat terdistraksi oleh seorang gadis yang berkendara, tanpa helm di kepala, menerobos begitu saja dengan kencang, dari arah berlawanan ada truk besar, menghajar.  Kenanganmu masih terus kubawa menikmati sore hari, menyusuri tol dalam kota, menembus riuhnya Jakarta.
Pertanyaanku kemudian, apakah kamu merindukan hal yang sama?

Apa kabar kamu?
Tiga tahun meninggalkan Jogja, aku pernah kembali untuk waktu yang lama. Bukan pulang karena sedang lebaran, atau pulang karena rindu masakan ibu, tapi khusus untuk mengenang jejak tentangmu. Itulah salah satu kebodohan yang kulakukan karena menyusuri kenangan tentangmu. Aku rela mengambil cuti untuk pergi.
Jalanan-jalanan yang pernah kita tempuh berdua saja. Makanan-makanan yang pernah kita nikmati. Tempat-tempat yang pernah menghiasi hari. Kutempuh satu-satu, kukenang satu-satu. Dengan satu pikiriran paling konyol yang pernah ada: Kamu tiba-tiba melakukan hal yang sama, dan kita bertemu. Itu sungguh lucu. Aku bahkan menertawakan kebodohanku tentang itu.
Awalnya kukira, dengan melakukan itu, aku semacam melakukan penyembuhan. Tapi justru berefek buruk. Aku kembali ke Jakarta dengan perasaan yang tak menentu. Seorang kawan datang, menghiburku.
Ingatan akan hilang. Kenangan akan hilang. Waktu akan menghapus perlahan-lahan. Kita hanya bisa menikmati, tanpa bisa menyingkirkan. 
Tapi pertanyaanku kepada langit masih sama.
Sewindu telah berlalu. Apakah kamu tidak merindukanku?

- Har -

6 comments:

  1. ah, memang rindu itu berat ya, kadang menyakitkan kalau sudah rindu

    ReplyDelete
  2. Kita samaan, aku pernah jauh2 dari Banjarnegara ke Jogja cuma melakukan hal konyol sepertimu.. Menyusuri tempat2 yg dlu pernah kami lewati, tanpa diminta tempat2 itu bercerita seperti apa dulu aku. Hampir dua minggu aku tinggal di jogja hanya untuk sengaja mengenang kenangan itu. Aku ingin membuktikan suatu saat ketika aku kembali ke tempat2 itu suasana hati dan emosi tak lagi menyeruak mengingatnya.. Duh ya, aku bapeeer baca ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang setiap tempat membangkitkan rasa dan orang yang pernah ada di sana bersama. :)

      Selamat mengenang kenang

      Delete